Sabtu, 07 Desember 2013

RONA WAJAH KARAWANG DALAM SENJA KEHIDUPAN


Di era globalisasi saat ini, perubahan alam dan lingkungan sekitar seakan terasa sekali oleh kita, tak terkecuali semua aspek kehidupan yang berlangsung didalamnya, kemajuan zaman yang di ikuti oleh perubahan mau tak mau memaksa kita untuk beradaptasi dengan alam yang kian meresahkan, banyak sekali perbedaan yang jelas tampak di depan mata kita antara  saat dahulu dan sekarang, begitupun karawang yang dulu dikenal sebagai kota padi pun kini telah berganti wajah menjadi kota industry, kota nan ramah dan asri kini menjadi kota dengan tingkat polusi yang cukup tinggi, upaya pelestarian alam dan lingkungan pun gencar di galakkan oleh pemerintah lewat slogan maupun baliho baliho yang terpampang disepanjang ruas jalan, namun sayangnya  tindak lanjut  dari pemerintah dirasa  tidak sejalan dengan  kenyataan yang ada, semuanya terasa seakan hanya menjadi wacana belaka, sampai kita semua tidak menyadari tingkat keamanan lingkungan di karawang menuju kea rah yang cukup membahayakan, polusi udara, suara , dan polusi air semakin hari seakan smakin mengancam kehidupan kita, sungai citarum yang merupakan jalur  transportasi air yang cukup padat dan menjadi pusat dari perdagangan  di masa kerajaan tarumanegara kini menjelma menjadi sungai  dengan pencemaran lingkungan terkotor ketiga di urutan dunia, bayangkan betapa alam kian menampakan kemarahan nya kepada kita semua,
 bila sudah seperti ini kita harus menyalahkan siapa lagi?
Investor asing yang mnanamkan modalnya untuk mendirikan perusahaan di karawang seakan enggan untuk melihat realita yang ada, kepentingan pribadi mereka dahulukan sedangkan kepentingan golongan mereka abaikan, meskipun tidak kita pungkiri beberapa pengusaha yang berinvestasi di karawang pun ada yang memikirkan kelangsungan hidup ekosistem alam di karawang dengan didirikannya pengolahan limbah terpadu sesuai standar yang ditetapkan pemerintah karawang untuk tiap tiap perusahaan,namun semuanya dirasa tidak seimbang dengan semakin bertambah banyaknya perusahaan yang berdiri tegak dan kokoh di bumi pangkal perjuangan ini.
Jika kita bandingkan keadaan kota karawang dengan suku pedalaman contohnya saja suku baduy, akan jelas terlihat perbedaanya, bisa kita lihat bagaimana masyarakat suku baduy dalam menjaga dan melestarikan adat istiadat penuh dengan tanggung jawab dan rasa cinta akan leluhurnya, namun apa jadinya bila kebiasan tersebut kita adopsikan di kota karawang, tentu itu akan menjadi pekerajan rumah tangga yang sangat amat sulit bahkan mustahil, karena mengingat suku baduy merupakan sekelompok suku yang tertutup akan dunia luar dan hanya terikat antar suku didalamnya, kehidupan mereka yang mengandalkan alam sangat dirasa susah unntuk di terapkan di kota karawang, mengingat karawang merupakan kota penyangga ibukota, di mana lika liku kehidupan di dalamnya pasti sejalan dengan perkembangan zaman, masyarakat yang mayoritas bukan penduduk asli karawang merupakan salah satu alasan yang membuat hubungan antar masyarakat satu dengan masyarakat lainnya seakan menjadi individualisme, proses kehidupan yang mementingkan kepuasan pribadi, sehingga rasa cinta akan kota kelahiran pun kurang begitu besar, yang akhirnya membuat  pola fikir masyarakat acuh tak acuh terhadap kondisi lingkungan dikarawang yang kian hari kian membahayakan
Lantas siapa lagi yang harus kita salahkan??
Berintropeksi diri dan memulai semua dari diri sendiri merupakan wujud nyata dari penyelamatan lingkungan di karawang ini, karena seperti yang kita tahu, sesuatu yang besar di mulai dari hal yang terkecil., seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon di pekarangan rumah, tidak menggunakan   kantong plastic secara berlebihan, merupakan langkah kecil dalam menjaga ke stabilan lingkungan kita, Kehidupan akan tetap berjalan, bukan hanya kita namun anak cucu kita juga akan mengalaminya kelak, semua akan kembali ke alam, karena segala bentuk aspek kehidupan berasal dari alam, memelihara lingkungan merupakan suatu kewajiban kita bersama dan melestarikan budaya hidup bersih adalah tanggung jawab kita semua.
 kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
J





Untuk kotaku tercinta Bumi pangkal perjuangan


Ache Cassanova

Tidak ada komentar:

Posting Komentar