Di era globalisasi saat ini,
perubahan alam dan lingkungan sekitar seakan terasa sekali oleh kita, tak
terkecuali semua aspek kehidupan yang berlangsung didalamnya, kemajuan zaman
yang di ikuti oleh perubahan mau tak mau memaksa kita untuk beradaptasi dengan
alam yang kian meresahkan, banyak sekali perbedaan yang jelas tampak di depan
mata kita antara saat dahulu dan
sekarang, begitupun karawang yang dulu dikenal sebagai kota padi pun kini telah
berganti wajah menjadi kota industry, kota nan ramah dan asri kini menjadi kota
dengan tingkat polusi yang cukup tinggi, upaya pelestarian alam dan lingkungan pun
gencar di galakkan oleh pemerintah lewat slogan maupun baliho baliho yang
terpampang disepanjang ruas jalan, namun sayangnya tindak lanjut
dari pemerintah dirasa tidak
sejalan dengan kenyataan yang ada,
semuanya terasa seakan hanya menjadi wacana belaka, sampai kita semua tidak
menyadari tingkat keamanan lingkungan di karawang menuju kea rah yang cukup
membahayakan, polusi udara, suara , dan polusi air semakin hari seakan smakin
mengancam kehidupan kita, sungai citarum yang merupakan jalur transportasi air yang cukup padat dan menjadi
pusat dari perdagangan di masa kerajaan
tarumanegara kini menjelma menjadi sungai
dengan pencemaran lingkungan terkotor ketiga di urutan dunia, bayangkan
betapa alam kian menampakan kemarahan nya kepada kita semua,
bila sudah seperti ini kita harus menyalahkan
siapa lagi?
Investor asing yang mnanamkan
modalnya untuk mendirikan perusahaan di karawang seakan enggan untuk melihat
realita yang ada, kepentingan pribadi mereka dahulukan sedangkan kepentingan
golongan mereka abaikan, meskipun tidak kita pungkiri beberapa pengusaha yang
berinvestasi di karawang pun ada yang memikirkan kelangsungan hidup ekosistem
alam di karawang dengan didirikannya pengolahan limbah terpadu sesuai standar
yang ditetapkan pemerintah karawang untuk tiap tiap perusahaan,namun semuanya
dirasa tidak seimbang dengan semakin bertambah banyaknya perusahaan yang
berdiri tegak dan kokoh di bumi pangkal perjuangan ini.
Jika kita bandingkan keadaan kota
karawang dengan suku pedalaman contohnya saja suku baduy, akan jelas terlihat
perbedaanya, bisa kita lihat bagaimana masyarakat suku baduy dalam menjaga dan
melestarikan adat istiadat penuh dengan tanggung jawab dan rasa cinta akan
leluhurnya, namun apa jadinya bila kebiasan tersebut kita adopsikan di kota
karawang, tentu itu akan menjadi pekerajan rumah tangga yang sangat amat sulit
bahkan mustahil, karena mengingat suku baduy merupakan sekelompok suku yang
tertutup akan dunia luar dan hanya terikat antar suku didalamnya, kehidupan
mereka yang mengandalkan alam sangat dirasa susah unntuk di terapkan di kota
karawang, mengingat karawang merupakan kota penyangga ibukota, di mana lika
liku kehidupan di dalamnya pasti sejalan dengan perkembangan zaman, masyarakat
yang mayoritas bukan penduduk asli karawang merupakan salah satu alasan yang membuat
hubungan antar masyarakat satu dengan masyarakat lainnya seakan menjadi
individualisme, proses kehidupan yang mementingkan kepuasan pribadi, sehingga
rasa cinta akan kota kelahiran pun kurang begitu besar, yang akhirnya
membuat pola fikir masyarakat acuh tak
acuh terhadap kondisi lingkungan dikarawang yang kian hari kian membahayakan
Lantas
siapa lagi yang harus kita salahkan??
Berintropeksi diri dan memulai
semua dari diri sendiri merupakan wujud nyata dari penyelamatan lingkungan di
karawang ini, karena seperti yang kita tahu, sesuatu yang besar di mulai dari
hal yang terkecil., seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon di
pekarangan rumah, tidak menggunakan kantong plastic secara berlebihan, merupakan
langkah kecil dalam menjaga ke stabilan lingkungan kita, Kehidupan akan tetap
berjalan, bukan hanya kita namun anak cucu kita juga akan mengalaminya kelak,
semua akan kembali ke alam, karena segala bentuk aspek kehidupan berasal dari
alam, memelihara lingkungan merupakan suatu kewajiban kita bersama dan
melestarikan budaya hidup bersih adalah tanggung jawab kita semua.
kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan
sekarang, kapan lagi?
J
Untuk
kotaku tercinta Bumi pangkal perjuangan
Ache Cassanova
Tidak ada komentar:
Posting Komentar