“Kereta dengan
tujuan akhir tanjung priuk akan segera di berangkatkan, dimohon kepada
penumpang agar segera bersiap – bersiap .” Tooooooooooooooooooooooootttttttttttt. . . . . . . .
. .
Suar gemuruh kereta menyeruak
seraya diiringi lambaian tangan sang masinis kepada petugas stasiun yang dengan
setia berdiri memantau kereta yang hendak berlalu, selang beberapa detik kereta dengan tujuan keberangkatan karawang – tanjung priuk yang diberngkatkan
pukul 15.45 itu pun hilang dalam penglihatanku , terbenam seperti matahari
jatuh ke ufuk barat,
Aku tersenyum sendiri, entah
mengapa aku sangat senang melihat kereta dan rela berdiam diri berjam jam
menghabiskan waktu di stasiun hanya
untuk menyaksikan kereta yang lalu lalang melintas dihadapanku, lamanunanku
melayang mengingat kembali awal pertama aku menginjakan kaki di stasiun dan
untuk pertama kalinya aku mencba memberanikan diri untuk mencba menggunakan
alat transportasi terpanjang di bumi ini, kala itu rekan dari purwakarta
mengundangku untuk berlibur disana melewati masa libur smester ganjil yang
cukup panajang , ia merekomendasikan agar aku menggunakan jasa kereta api,
karena disamping harga nya yang sangat ekonomis, kebetulan rumah kerabatku
itupun berada tepat dibelakang stasiun
KA sadang, hal lain yang mendorong ia merekomendasikan ku untuk
menggunakan ular besi ini, karena mengingat lalu lintas di kota purwakarta
cukup tertib dan sangat taat, polisi disana selalu berjaga jaga di setiap jalan
dan tak segan menegur bahkan menilang para pengendara sepedah motor yang tak
menggunakan helm ataupun tak menyalakan lampu jarak jauh pada saat siang hari
sesuai ketetapan perundang – undangan lalau lintas yang berlaku di Indonesia
saat ini, karena alas an belum memiliki sim dan rasa ingin tahu bagaimana
rasanya menaiki kendaraan yang selalu padat di penuhi berates – ratus orang
itupun aku kahirnya memutuskan untuk menuruti rekomendasi di rekan ku itu, yang
lucunya aku belum sama sekali menginjakan kaki di stasiun dan mengetahui aturan
main dari kereta api itu sendiri,
Tepat pukul 08.00 aku berangkat
ke stasiun dengan di antar oleh sahabatku, aku langsung menunggu diluar area
stasiun tempat para penumpang menunggu kereta tujuan mereka berhrnti di hadapan
mata, aku heran mengapa banyak sekali kereta apai yang melintas didepanku tapi
mengapa kereta- kereta tersebut tidak berhenti, bahkan aku pernah berlari
mengejar kereta berharap kereta sengaja berhenti tidak tepat di depan stasiun
akan tetapi lebih menjorok melewati stasiun, hatikupun kesal setelah 30 menit
tak ada satu keretapun yang bberhenti, akhirnya aku memberanikan diri bertanya
kepada petugas penjaga stasiun, “ pa, koq
keretanya gak ada yang berhenti yah? Kapan yah pa kereta yang menuju
purwakarta?
Sang petugas berseragam biru dan celana bahan hitam lengkap
dengan topi kebesarannya itu tidak langsung menjawab , ia justru melayangkan
senyuman yang sedikit tertahan di wajahnya,
“ kamu baru pertama ke station yah? “ Tanya sang petugas kepadaku, aku
mengaggukan kepala seraya mengiyakan apa
yang dikatakan sang petugas, kemudian sang petugas kembali berkata “ tidak semua kereta yang melintasi stasiun
ini berhenti disini, mengingat setiap kereta memiliki tujuan berbeda, kalau
setiap kereta berhenti di stasiun berapa jam jarak yang di tempuh kereta dari
jurusan madiun jawa timur ke Jakarta? Mengingat hampir di setiap kota memiliki
lebih dari dua stasiun? Ini kan bukan terminal bus yang semua bus pasti akan
berhenti ?”
Aku tersenyum mendengarkan
penjelasan sang petugas, aku tersipu malu, betapa ketidaktahuanku selama ini
akhirnya membawaku pada masa yang sangat
memalukan dan membuat hambatan kecil dalam perjalananku, sang petugas
melanjutkan pembicaraanya “ kereta tujuan
akhir purwakarta akan tiba pukul 11.05, dan kereta tersebut akan berhenti di
beberapa setasiun yang dilewati seperti stasiun klari, kosambi, dawuan,
cikampek, cibungur, sadang dan berhenti di stasiun purwakarta, ade berhenti di
stasiun mana?” kembali sang petugas bertanaya, “ turun disadang pa, ya sudah pa, kalo begitu terimakasih yah pa atas
informasinya maaf menggangu waktu kerja bapa,!”
Aku berlalu dari hadapan sang
petugas seraya diiringi senyuman dan
tawa kecil dari sang petugas, kulihat jam ternyata jarum jam menunjukan
pukul 09.45 , berarti masih sekitar 120
menit lagi aku berada di stasiun ini.
pada awalnya aku ingi memutuskan kembali ke
kostan terlebih dahulu namun akun urungkan niat karena aku tidak mau repot
harus bolak – balik stasiun, aku lebih memilih untuk menikmati masa – masa awal
berada di staiun ini, tak sabar hatiku rasanya menunggu kedatangan kereta yang
akan mengantarkanku ke tempat tujuanku dan memanjakanku dengan berbagai
fasilitas yang berbeda yang ada didalamnya,
Berbagai aktifitas terdapat di
sini, bermacam – macam orang pula ada disini, dari mulai pedagang asongan,
pegawai negri sipil, hingga pegawai kantoran ada semua disini, ya.. aku sebenarnya hanya mengira- ngira saja dari
pakaian yang mereka kenakan, itu semua
sudah mewakili identitas mereka masing – masing,dan dari situ pula orang
siapapun akan bisa menebak profesi seseorang,
Padanganku beralih ke ujung
stasiun dimana banyak sekali marjinal marjinal pinggiran korban dari kebijakan
para elit politik yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan mengacuhkan
kepentingan beberapa golongan seperti yang tampak di depan mataku saat ini,
seorang pemuda dengan pakaian punk rock, lengkap dengan tatanan rambut mow hak,
dan sepatu boots tinggi asyik memainkan gitar ukulelenya, terbesit diwajahnya
kepolosan dan tampak jelas tak terlihat adanya beban dalam hidupnya,
disampingnya terdapat seorang ibu- ibu
setengah baya sedang mengais anak laki lakinya dengan pakaian yang
begitu kumuhnya ssang ibu dengan penuh kasih saying menimang nimang buah
hatinya, tak ada tangis dari sang anak itu, meskipun suara gemuruh kereta
sering terdengar lantang, seolah menjadi
nada pengantar tidur sang bocah tetap terlelap tidur dalam dekapan sang
ibunya, naluri ibu membuat anak tersebut merasa nyaman tak dihiraukannya
keadaan sekitarnya,sang ibu yang sesekali mendekati penumpang dan meminta uang
sembari menghiba mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung stasiun tetap
dalam konsistennya menimang nimang sang buah hati, , aku melihat sang ibu
dengan tulus mencium sang buah hati ketika ia mendapatkan sekeping uang dari
seseorang, satu harapan meskipun hanya dari sekeping uang logam,
Tak jauh dari ibu tersebut
terdapat seorang nenek yang telah renta dengan hati hati ia menuntun seorang
kakek kakek yang buta , satu tangan sang nenek memegang cangkir kosong sebagai
wadah untuk mengumpulkan koin – koin dari pengunjung stasiun atau pengguna jasa
kereta Api, sedangkan satu tangannya menggandeng sang kekek, kemudian kedua
pasangan tersebut duduk untuk beristirahat di samping rel yang tidak
difungsikan, rupanya sang nenek kelelahan terlihat sang nenek mengeluarkan
botol aor mineral dalam kantong tas plastic lusuhnya dan meminumnya, rasa
dahaga jelas terlihat kala sang nenek meneguk satu demi satu tegukan dari air
mineral tersebut, botol air mineral yang sudah kumuh itupun tak lupa sang nenek
berikan kepada sang kakek yang rupanya dari tadi menunggu giliran untuk
mendapatkan jatah minum sebagai pelepas dahaga, tak sampai disitu sang nenek
kemudian kembali mrogoh kantong lusuhnya
sembari mengeluarkan bungkusan kecil berisikan nasi dan lauk pauk didalamnya,
dengan tangannya yang sudah keriput sang nenek dengan setia menyuapi sang kakek
yang terlihat lapar, sesekali sang nenek memasukan jemari jemari nya kemulutnya
jikalau sang kakek sudah mendapatkan jatah, satu gambaran keluarga yang
terlihat serasi dan saling menyayangi juga menerima satu sama lain disaat
kekurangan mendera mereka,pada saat itu aku ingin sekali memndekati ppasangan
tersebut , berkecamuk dalam dadaku beribu pertanyaan yang ingin sekali aku
pertanyakan, adakah sanak saudara yang mereka miliki? Kemana anak cucu mereka?
Adakah rumah tempat mereka berteduh dari derasnya hujan dan dinginnya malam
atau sengatan matahri siang hari? Begitu gejolak dalam batinku, namun ku
urungkan niatku ketika ku tahu kedua pasanag tersebut melanjutkan perjalanan
menuju kereta dengan tujuan akhir Jakarta kota, terlihat sang nenek dengan
susah payah menaiki gerbong kemudian dengan hati – hati ia mengulurkan tangan
dan menjaga agar tubuh renta sang kakek tidak
terjatuh tak terasa air mataku menetes sedikit demi sedikit dari pelupuk
mataku, betapa besar cinta mereke? Betapa kuat, sabar dan tawakal mereka dalam
menjalani hidup ini. tak ada dendam ataupun
keluhan dari wajah mereka, , bagaimana jika aku menjadi atau berada
diposisi merka? Bagaimana jika suatu saat aku dimakan usia dan penyakit mulai
menggrogoti tubuhku pasangan hidupku malah meninggalkanku, kutahan nafas dalam
dalam, serassa sesak didada memikirkan beberapa pertanyaan yang berkecamuk
dalam benakku . . hingga ku tersadar betapa beruntungnya hidupku, terlepas dari
lingkaran kemiskinan yang membayang bayangiku, aku besyukur bisa menjadi bagian
dari kaum intelektual yang memiliki ilmu yang nantinya bisa aku sumbangkan
untuk kepentingan orang banyak, tanpa melupakan kodratku sebagai makhluk
ciptaan tuhan yang tak luput dari kekurangan,
aku
mengusap kembali air mataku seolah ingin meronta dan berteriak, dimana letak
keadilan ini? Bagaimana Negara bisa menjamin keamanan untuk kestabilan Negar, sedangkan
untuk mensejahterakan rakyat itu sendiri saja tidak bisa dilakukan secara
merata, bukankah dalam undang undang dasar Negara no 11 tahun 2009 pasal 1
point 2 sangat jelas disebutkan bahwa Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu,
dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga
negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial,
dan perlindungan sosial? Itu semua Seakan hanya menjadi wacana dan rubrik
sesaat oleh anggota dewan sebagai bukti pekerjaan mereka kepada publik, akan
tetapi sayangnya itu semua tidak diiringi dengan tindak lanjut dan kerja nyata
dari anggota dewan tersebut, kalau saja undang undang tersebut bisa
dilaksanakan dengan baik, mungkin tidak akan ada punk seorang ibu yang membawa
anaknya ke stasiun di tengah teriknya matahari . tidak akan ada lagi sosok
kakek buta dan nenek tua renta yang harus berebut masuk kedalam gerbong untuk
mengais rezeki sebagai pengemis,
fikiranku terus bergumul diiringi
dengan kekesalan yang sangat menggebu, kekesalan akan lemahnya kinerja
pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat di dalamnya hingga ku tak sadar di
belakngku telah hadir sesosok pemuda yang kelihatannya usianya tak jauh beda
dari diriku, Ia mengajak ku mengobrol menanyakan asal usul ku aku pun tanpa
segan menceritakan semua pengalaman pertamaku di kereta ini, lambat laun aku
merasakan keanehan terhadap pemuda ini, ucpannya sedikit melantur dari hal
pokok yang kita bicarakan aku sebenarnya mulai merasa tidak nyaman namun aku
pun tak kuasa un tuk mengelak dan menghindar dari dirinya, sampai akhirnya
kumendengar seorang lelaki memanggilku dan melambaikan tangan mengarahkan
kepadaku, ah .. ini ku jadikan momen untukku menghindar dari
pemuda tersebut, gumamku dalam hati, akhirnya aku pamit untuk mengakhiri
percakapan kepada pemuda tersebut dan bergegeas menuju bapa yang sedari tadi
memanggilku, betapa terkejutnay aku setelah mendengar penjelasan bahwa pemuda
tersebut buka pemuda waras, alias terkena gangguan jiwa, astaga sungguh
beruntung ada orang yang peduli akan keberadaanku, “itu teh jalmi gelo jang,
tong dilayaanan , bapa karunya bisi ujang dibawa bawa teu bener kumanehna,
manehnamah sok kitu mun aya budak anyar ge, ati – ati jang, bade kamana sih
jang?” Tanya si bapa ke padaku dengan logat sunda yang begitu kental dan
terdengar santun, meskipun aku tak sepenuhnya menguasai bahasa sunda kucoba
menjawab pertanyaan sang bapa dengan logat sunda yang sedikit terbata – bata, “ oh. .
kitu nya pa, hatur nuhun pa, abi teu terang anjeuna the jalmi kirang
waras, rumaos munggaran pisan abi ka stasiun the pa, bade ka sadang pa , bade
ameng ka rerencangan,!” jawabku.
“ óh . . sami atuh
ai kitu mah bp ge bade ka purwakarta ngan bapamah bade ka purwaakarta kota na,
nya tos atuh di dieu weh bareng jeung bapa, bisi budak nu teu waras eta
ngadekeutan deui, sakedap deui ge kareta dongkap da, ,” tutur sang bapa, aku hanya
menganggukan kepala dan bergumam dalam hati , betapa beruntungnya aku ketika
dalam ketidak sadaranku dalam bahaya tuhan menjagaku dengan caranya yang tak
pernah akau duga sebelumnya, akupun duduk disamping sang bapa beserta rombongan
yang ternyata masih sanak saudara bapa tersebut aku yakin dia orang yang baik.
Tak terasa waktu menunjukan pukul
11.05 dan benar saja tak lama kereta tujuan akhir purwakarta tiba, dengan
tergesa gesa aku bersemangat berebut masuk kedalam gerbong bergumul dengan
belasan orang yang sudah mengantri dari tadi
sampai aku sendiri melupakan kewajibanku sebagai penumapang, yakni
membeli tiket keberangkatan ,untung sang bapak memberitahukan dan menenagkankuku
bahwa tidak apa apa tanpa tiket jika jarak tujuan yang ditempuh dekat asalkan
pada saat pemeriksaan kita memberikan uang sesuai harga tiket tujuan, akupun
menyiapkan uang lembaran 2000 rupiah menanti petugas kereta datang menghampiri
dan meminta tiket kepadaku, akupun akhirnya turun di stasiun sadang dengan
arahan sang bapak yang setia menemaniku pada saat di dalam kereta, sesampainya
di sadang tak lama rekanku datang menjemputku , kuceritakan semua pengalaman
pertamaku menaiki kereta kepada dia, banyak hal yang terjadi tanpa terduga yang
aku alami dari sesuatu yang mungkin menurut sebagian orang itu biasa.
Tooooooooottttttttt……………..
lamunanku tersontak, , seiring kerasnya bunyi kereta berhenti
dihadapanku, ah. . mengaganggu saja
lamunanku dimasa lalu . Ketusku dalam hati , sembari mengumpulkan kembali
pikiranku yang telah larut dalam kenangan masa lalu ketika awal pertama
menginjakan kaki di stasiun ini, itulah pengalaman pertamaku berada di stasiun hingga akhirnya aku seperti
merasakan kecanduan untuk kembali dan
kembali lagi ke stasiun meskipun tidak untuk tujuan menumpang kereta,disamping
memang karna letak kost-an ku sat ini tidak begitu jauh dari lokasi stasiun
kereta ini, hanya sekitar 500 meter jarak antara kost-an ku dengan stasiun ini,
hal ini lah yang membuatku sering datang k stasiun ini, seperti saat sekarang
ini, aku kembali duduk memandangi segumulan orang yang tengah sibuk dengan
aktifitasnya masing masing di stasiun kereta api ini.
Berduyun duyun para penumpang
berebut masuk kedalam tiap tiap gerbong, berharap mendapatkan tempat duduk dan dapat melepaskan penat setelah lama
menanti di stasiun akan datangnya kereta, memang kereta api merupakan alat
transportasi yang di peruntukan oleh pemerintah untuk masyarakat kelas menengah
kebawah sesuai dengan peraturan mentri perhubungan nomor PM 43 tahun 2012
mengenai tarif dasar perkereta apian untuk kelas ekonomi,
Aku sebenarnya heran mengapa aku
jadi senang dan betah berlama – lama di stasiun hanya untuk melihat kerumunan
orang mengantri masuk kedalam gerbong kereta api dan juga menunggu kereta api
yang sekedar lewat dihadapan,dengan diiringi music khas pengamen Kereta dan
sesekali hilir mudik para pengemis dari beberapa versi menyapaku dengan ramah,
padahal jika melihat masa kecilku dulu,aku sangat takut dengan kendaraaan
besar, apapun itu, bus, kereta, pesawat, bagiku sesuatu hal yang menakutkan,
semua seolah robot yang sewaktu – waktu dapat menerkam atau bahkan membunuhku
dengan kondisi fisik yang jauh lebih besar dari diriku, imajinasiku bukan tanpa
alas an karna sejak kecil aku memang suka sekali melihat kartun robot, dan
robot – robot dalam serial kartun tersebut sangat mirip dengan kendaraan –
kendaraan besar tersebut dari segi ukurannya, hal lain yang membuatku takut
akan kendaraan besar konon karna turunan dari orangtuaku, yah .. ibuku pun mengalami hal yang sama seperti
diriku, selalu parno jika ada kendaraan besar melewati dirinya, tapi aku tak
seberuntung ibuku beliau hanya merasakan ketakutan hingga kelas lima sekolah
dasar sedangkan seingatku, sampai sekolah menengah pertama aku kadang masih
takut dengan transportasi ukuran besar,tetapi itu dulu , , semenjak orangtuaku
memutuskan aku untuk mendalami ilmu ke teknikan dengan konsentrasi bidang
permesinan aku justru sekarang malah menjadi tertarik dengan kendaraan
kendaraan dengan ukuran yang besar, aku selalu memperhatikan system yang
bekerja pada kendaraan tersebut, betapa mekanika fluida dan termodinamika
begitu jelas kulihat walau hanya sekilas dari rangka kendaraan tersebut tak
terkecuali kereta api, aku selalu dengan seksama memperhatikan keseluruhan body
mesin, system kontruksi dan beberapa hal yang telah ku pelajari di bangku
kuliah.
lamunanku kembali tersentak ketika seseorang
menegurku, “permisi, boleh numpang duduk
mas?” suara lembut nan merdu menyapa di dalam asyiknya lamunanku, suara
yang keluar dari sosok dara jelita berparas oriental berkulit putih, jelas
sekali jika perempuan ini berdarah tionghoa, dalam transisi antara mengumi dan
menjawab pertanyaan yang dilontarkan aku pun menjawab dengan lantang dan
sedikit nada agak gugup . “oh .. silahkan
mba,!” tak salah kiranya jika aku menebak jika perempuan itu masih gadis,
dari perawakannya ia tak jauh beda denganku, mungkin hanya berbeda satu atau
dua tahun lebih tua dariku, gadis tionghoa beraambut panjang pirang terurai
terlihat anggun dengan dibalut busana berwarna jingga dipaduvpadankan dengan
rok setengah lutut berwarna hitam dan acsesories tas cantik ber merk georgio Armani
berwarna coklat, sangat jelas terlihat ia merupakan orang yang tau akan mode,
cita rasa yang elegan nan menawan terpancar jelas dari aura wajah dan
pembawaanya, dari beberapa barang yang ia kenakan aku bisa menebak kalau ia
bukan orang biassa, semua serba ber merk, pndanganku tak luput dari satupun
yang ia kenakan, sepatu merk buccheri acsesories hp merk ternama semua terlihat
indah dipandang mata hingga aku enggan untuk meneoleh ke tempat yang lain,
awlnya aku fikir ia pemeluk nasrani yang taat terlihat jelas kalung salib yang
menempel pada lehernya dan keasyikannya khusus seolah membaca sesuatu, awalnya
aku fikir itu Al-kitab, setelah ku perhatikan secara seksama ternyata itu sejenis buku agenda bukan Al-kitab seperti
yang aku fikirkan sebelumnya.
Rona wajah yang tak
pasti tergambar diwajahnya, sesekali ia terlihat amat serius, sesekali ia
menahan nafas yang cukup dalam seolah masalah besar sedang ia hadapi, bahkan
dengan sesksama aku perhatikan linangan sedikit air mata sempat tergenang
dipelupuk matanya yang sipit itu, dari pengamatanku aku bisa menebak sepertinya
ia sedang dilanda masalah.
Pengamatnku
tersentak ketika petugas mengumumkan bahwa kereta tujuan akhir Jakarta kota
akan segera tiba, dan benar saja beberapa saat kemudian kereta yang dimaksud
sudah tegap berdiri dihadapanku, dengan sangat terburu-buru dan tergesah –
gesah sang gadis jelita keturunan tionghoa tersebut berlalu dengan tergopoh
gopoh dari hadapanku, sampai – sampai Ia tak sadar ada salah satu benda
terjatuh dari genggamannya, benda yang jatuh tepan didepan mataku, aku cba
memanggil gadis itu walau aku tak tahu gadis itu spa namanya, “ mba.
. . .?” ternyata gadis itu tak mendengar sahutanku ia terus berlalu,
bergumul di keramainya manusia yang tengah berebut masuk kedalam gerbong kereta
yang sebentar lagi akan di berangkatkan.
Ku amati baik – baik benda yang
terjatuh tersebut, ku cba mengambil secara perlahan, selembar kertas yang
ternyata setelah kubalikkan berupa foto bergambar seorang pria berwajahkan asli
khas orang sunda dengan senyum lesung pipit menghiasi indahnya foto tersebut,
seolah menjadi gambaran betapa bahagia sang empunya model fhoto tersebut,
Tak ada tulisan ataupun kata –
kata, ataupun entah apalah yang tertera pada balik fhoto yang sebelumnya ku
fikir hanya lembaran kertas biasa, hanya secerca tanda tangan di bagian bawah
sebelah kiri foto sebagai penghias sudut fhoto, ku pegang fhoto tersebut dan
karena bingung harus berbuat apa, akhirnya ku putuskan untuk membawa fhoto
tersebut ke kost-an ku, mengingat waktu beranjak senja dan suara adzan magrib
pun telah berkumandang maka akupun bergegas pulang menuju kost-an.
bersambung. .. . .