Sabtu, 07 Desember 2013

cerpen bagian 1



“Kereta dengan tujuan akhir tanjung priuk akan segera di berangkatkan, dimohon kepada penumpang agar segera bersiap – bersiap .” Tooooooooooooooooooooooootttttttttttt. . . . . . . . . .
Suar gemuruh kereta menyeruak seraya diiringi lambaian tangan sang masinis kepada petugas stasiun yang dengan setia berdiri memantau kereta yang hendak berlalu, selang beberapa detik  kereta dengan tujuan keberangkatan  karawang – tanjung priuk yang diberngkatkan pukul 15.45 itu pun hilang dalam penglihatanku , terbenam seperti matahari jatuh ke ufuk barat,
Aku tersenyum sendiri, entah mengapa aku sangat senang melihat kereta dan rela berdiam diri berjam jam menghabiskan waktu di stasiun  hanya untuk menyaksikan kereta yang lalu lalang melintas dihadapanku, lamanunanku melayang mengingat kembali awal pertama aku menginjakan kaki di stasiun dan untuk pertama kalinya aku mencba memberanikan diri untuk mencba menggunakan alat transportasi terpanjang di bumi ini, kala itu rekan dari purwakarta mengundangku untuk berlibur disana melewati masa libur smester ganjil yang cukup panajang , ia merekomendasikan agar aku menggunakan jasa kereta api, karena disamping harga nya yang sangat ekonomis, kebetulan rumah kerabatku itupun berada tepat dibelakang stasiun  KA sadang, hal lain yang mendorong ia merekomendasikan ku untuk menggunakan ular besi ini, karena mengingat lalu lintas di kota purwakarta cukup tertib dan sangat taat, polisi disana selalu berjaga jaga di setiap jalan dan tak segan menegur bahkan menilang para pengendara sepedah motor yang tak menggunakan helm ataupun tak menyalakan lampu jarak jauh pada saat siang hari sesuai ketetapan perundang – undangan lalau lintas yang berlaku di Indonesia saat ini, karena alas an belum memiliki sim dan rasa ingin tahu bagaimana rasanya menaiki kendaraan yang selalu padat di penuhi berates – ratus orang itupun aku kahirnya memutuskan untuk menuruti rekomendasi di rekan ku itu, yang lucunya aku belum sama sekali menginjakan kaki di stasiun dan mengetahui aturan main dari kereta api itu sendiri,
Tepat pukul 08.00 aku berangkat ke stasiun dengan di antar oleh sahabatku, aku langsung menunggu diluar area stasiun tempat para penumpang menunggu kereta tujuan mereka berhrnti di hadapan mata, aku heran mengapa banyak sekali kereta apai yang melintas didepanku tapi mengapa kereta- kereta tersebut tidak berhenti, bahkan aku pernah berlari mengejar kereta berharap kereta sengaja berhenti tidak tepat di depan stasiun akan tetapi lebih menjorok melewati stasiun, hatikupun kesal setelah 30 menit tak ada satu keretapun yang bberhenti, akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada petugas penjaga stasiun, “ pa, koq keretanya gak ada yang berhenti yah? Kapan yah pa kereta yang menuju purwakarta?
Sang petugas  berseragam biru dan celana bahan hitam lengkap dengan topi kebesarannya itu tidak langsung menjawab , ia justru melayangkan senyuman yang sedikit tertahan di wajahnya, “ kamu baru pertama ke station yah? “ Tanya sang petugas kepadaku, aku mengaggukan kepala  seraya mengiyakan apa yang dikatakan sang petugas, kemudian sang petugas kembali berkata “ tidak semua kereta yang melintasi stasiun ini berhenti disini, mengingat setiap kereta memiliki tujuan berbeda, kalau setiap kereta berhenti di stasiun berapa jam jarak yang di tempuh kereta dari jurusan madiun jawa timur ke Jakarta? Mengingat hampir di setiap kota memiliki lebih dari dua stasiun? Ini kan bukan terminal bus yang semua bus pasti akan berhenti ?”
Aku tersenyum mendengarkan penjelasan sang petugas, aku tersipu malu, betapa ketidaktahuanku selama ini akhirnya membawaku pada masa yang sangat  memalukan dan membuat hambatan kecil dalam perjalananku, sang petugas melanjutkan pembicaraanya “ kereta tujuan akhir purwakarta akan tiba pukul 11.05, dan kereta tersebut akan berhenti di beberapa setasiun yang dilewati seperti stasiun klari, kosambi, dawuan, cikampek, cibungur, sadang dan berhenti di stasiun purwakarta, ade berhenti di stasiun mana?” kembali sang petugas bertanaya, “ turun disadang pa, ya sudah pa, kalo begitu terimakasih yah pa atas informasinya maaf menggangu waktu kerja bapa,!”
Aku berlalu dari hadapan sang petugas seraya diiringi senyuman  dan tawa kecil dari sang petugas, kulihat jam ternyata jarum jam menunjukan pukul  09.45 , berarti masih sekitar 120 menit lagi aku berada di stasiun ini.
 pada awalnya aku ingi memutuskan kembali ke kostan terlebih dahulu namun akun urungkan niat karena aku tidak mau repot harus bolak – balik stasiun, aku lebih memilih untuk menikmati masa – masa awal berada di staiun ini, tak sabar hatiku rasanya menunggu kedatangan kereta yang akan mengantarkanku ke tempat tujuanku dan memanjakanku dengan berbagai fasilitas yang berbeda yang ada didalamnya,
Berbagai aktifitas terdapat di sini, bermacam – macam orang pula ada disini, dari mulai pedagang asongan, pegawai negri sipil, hingga pegawai kantoran ada semua disini, ya..  aku sebenarnya hanya mengira- ngira saja dari pakaian  yang mereka kenakan, itu semua sudah mewakili identitas mereka masing – masing,dan dari situ pula orang siapapun akan bisa menebak profesi seseorang,
Padanganku beralih ke ujung stasiun dimana banyak sekali marjinal marjinal pinggiran korban dari kebijakan para elit politik yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan mengacuhkan kepentingan beberapa golongan seperti yang tampak di depan mataku saat ini, seorang pemuda dengan pakaian punk rock, lengkap dengan tatanan rambut mow hak, dan sepatu boots tinggi asyik memainkan gitar ukulelenya, terbesit diwajahnya kepolosan dan tampak jelas tak terlihat adanya beban dalam hidupnya, disampingnya terdapat seorang ibu- ibu  setengah baya sedang mengais anak laki lakinya dengan pakaian yang begitu kumuhnya ssang ibu dengan penuh kasih saying menimang nimang buah hatinya, tak ada tangis dari sang anak itu, meskipun suara gemuruh kereta sering terdengar lantang, seolah menjadi  nada pengantar tidur sang bocah tetap terlelap tidur dalam dekapan sang ibunya, naluri ibu membuat anak tersebut merasa nyaman tak dihiraukannya keadaan sekitarnya,sang ibu yang sesekali mendekati penumpang dan meminta uang sembari menghiba mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung stasiun tetap dalam konsistennya menimang nimang sang buah hati, , aku melihat sang ibu dengan tulus mencium sang buah hati ketika ia mendapatkan sekeping uang dari seseorang, satu harapan meskipun hanya dari sekeping uang logam,
Tak jauh dari ibu tersebut terdapat seorang nenek yang telah renta dengan hati hati ia menuntun seorang kakek kakek yang buta , satu tangan sang nenek memegang cangkir kosong sebagai wadah untuk mengumpulkan koin – koin dari pengunjung stasiun atau pengguna jasa kereta Api, sedangkan satu tangannya menggandeng sang kekek, kemudian kedua pasangan tersebut duduk untuk beristirahat di samping rel yang tidak difungsikan, rupanya sang nenek kelelahan terlihat sang nenek mengeluarkan botol aor mineral dalam kantong tas plastic lusuhnya dan meminumnya, rasa dahaga jelas terlihat kala sang nenek meneguk satu demi satu tegukan dari air mineral tersebut, botol air mineral yang sudah kumuh itupun tak lupa sang nenek berikan kepada sang kakek yang rupanya dari tadi menunggu giliran untuk mendapatkan jatah minum sebagai pelepas dahaga, tak sampai disitu sang nenek kemudian kembali mrogoh  kantong lusuhnya sembari mengeluarkan bungkusan kecil berisikan nasi dan lauk pauk didalamnya, dengan tangannya yang sudah keriput sang nenek dengan setia menyuapi sang kakek yang terlihat lapar, sesekali sang nenek memasukan jemari jemari nya kemulutnya jikalau sang kakek sudah mendapatkan jatah, satu gambaran keluarga yang terlihat serasi dan saling menyayangi juga menerima satu sama lain disaat kekurangan mendera mereka,pada saat itu aku ingin sekali memndekati ppasangan tersebut , berkecamuk dalam dadaku beribu pertanyaan yang ingin sekali aku pertanyakan, adakah sanak saudara yang mereka miliki? Kemana anak cucu mereka? Adakah rumah tempat mereka berteduh dari derasnya hujan dan dinginnya malam atau sengatan matahri siang hari? Begitu gejolak dalam batinku, namun ku urungkan niatku ketika ku tahu kedua pasanag tersebut melanjutkan perjalanan menuju kereta dengan tujuan akhir Jakarta kota, terlihat sang nenek dengan susah payah menaiki gerbong kemudian dengan hati – hati ia mengulurkan tangan dan menjaga agar tubuh renta sang kakek tidak  terjatuh tak terasa air mataku menetes sedikit demi sedikit dari pelupuk mataku, betapa besar cinta mereke? Betapa kuat, sabar dan tawakal mereka dalam menjalani hidup ini. tak ada dendam ataupun  keluhan dari wajah mereka, , bagaimana jika aku menjadi atau berada diposisi merka? Bagaimana jika suatu saat aku dimakan usia dan penyakit mulai menggrogoti tubuhku pasangan hidupku malah meninggalkanku, kutahan nafas dalam dalam, serassa sesak didada memikirkan beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku . . hingga ku tersadar betapa beruntungnya hidupku, terlepas dari lingkaran kemiskinan yang membayang bayangiku, aku besyukur bisa menjadi bagian dari kaum intelektual yang memiliki ilmu yang nantinya bisa aku sumbangkan untuk kepentingan orang banyak, tanpa melupakan kodratku sebagai makhluk ciptaan tuhan yang tak luput dari kekurangan,
                aku mengusap kembali air mataku seolah ingin meronta dan berteriak, dimana letak keadilan ini? Bagaimana Negara bisa menjamin keamanan untuk kestabilan Negar, sedangkan untuk mensejahterakan rakyat itu sendiri saja tidak bisa dilakukan secara merata, bukankah dalam undang undang dasar Negara no 11 tahun 2009 pasal 1 point 2 sangat jelas disebutkan bahwa Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial? Itu semua Seakan hanya menjadi wacana dan rubrik sesaat oleh anggota dewan sebagai bukti pekerjaan mereka kepada publik, akan tetapi sayangnya itu semua tidak diiringi dengan tindak lanjut dan kerja nyata dari anggota dewan tersebut, kalau saja undang undang tersebut bisa dilaksanakan dengan baik, mungkin tidak akan ada punk seorang ibu yang membawa anaknya ke stasiun di tengah teriknya matahari . tidak akan ada lagi sosok kakek buta dan nenek tua renta yang harus berebut masuk kedalam gerbong untuk mengais rezeki sebagai pengemis,

fikiranku terus bergumul diiringi dengan kekesalan yang sangat menggebu, kekesalan akan lemahnya kinerja pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat di dalamnya hingga ku tak sadar di belakngku telah hadir sesosok pemuda yang kelihatannya usianya tak jauh beda dari diriku, Ia mengajak ku mengobrol menanyakan asal usul ku aku pun tanpa segan menceritakan semua pengalaman pertamaku di kereta ini, lambat laun aku merasakan keanehan terhadap pemuda ini, ucpannya sedikit melantur dari hal pokok yang kita bicarakan aku sebenarnya mulai merasa tidak nyaman namun aku pun tak kuasa un tuk mengelak dan menghindar dari dirinya, sampai akhirnya kumendengar seorang lelaki memanggilku dan melambaikan tangan mengarahkan kepadaku, ah  ..  ini ku jadikan momen untukku menghindar dari pemuda tersebut, gumamku dalam hati, akhirnya aku pamit untuk mengakhiri percakapan kepada pemuda tersebut dan bergegeas menuju bapa yang sedari tadi memanggilku, betapa terkejutnay aku setelah mendengar penjelasan bahwa pemuda tersebut buka pemuda waras, alias terkena gangguan jiwa, astaga sungguh beruntung ada orang yang peduli akan keberadaanku, “itu teh jalmi gelo jang, tong dilayaanan , bapa karunya bisi ujang dibawa bawa teu bener kumanehna, manehnamah sok kitu mun aya budak anyar ge, ati – ati jang, bade kamana sih jang?” Tanya si bapa ke padaku dengan logat sunda yang begitu kental dan terdengar santun, meskipun aku tak sepenuhnya menguasai bahasa sunda kucoba menjawab pertanyaan sang bapa dengan logat sunda yang sedikit terbata – bata, “ oh. .  kitu nya pa, hatur nuhun pa, abi teu terang anjeuna the jalmi kirang waras, rumaos munggaran pisan abi ka stasiun the pa, bade ka sadang pa , bade ameng ka rerencangan,!” jawabku.
“ óh . . sami atuh ai kitu mah bp ge bade ka purwakarta ngan bapamah bade ka purwaakarta kota na, nya tos atuh di dieu weh bareng jeung bapa, bisi budak nu teu waras eta ngadekeutan deui, sakedap deui ge kareta dongkap da, ,” tutur sang bapa, aku hanya menganggukan kepala dan bergumam dalam hati , betapa beruntungnya aku ketika dalam ketidak sadaranku dalam bahaya tuhan menjagaku dengan caranya yang tak pernah akau duga sebelumnya, akupun duduk disamping sang bapa beserta rombongan yang ternyata masih sanak saudara bapa tersebut aku yakin dia orang yang baik.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 11.05 dan benar saja tak lama kereta tujuan akhir purwakarta tiba, dengan tergesa gesa aku bersemangat berebut masuk kedalam gerbong bergumul dengan belasan orang yang sudah mengantri dari tadi  sampai aku sendiri melupakan kewajibanku sebagai penumapang, yakni membeli tiket keberangkatan ,untung sang bapak memberitahukan dan menenagkankuku bahwa tidak apa apa tanpa tiket jika jarak tujuan yang ditempuh dekat asalkan pada saat pemeriksaan kita memberikan uang sesuai harga tiket tujuan, akupun menyiapkan uang lembaran 2000 rupiah menanti petugas kereta datang menghampiri dan meminta tiket kepadaku, akupun akhirnya turun di stasiun sadang dengan arahan sang bapak yang setia menemaniku pada saat di dalam kereta, sesampainya di sadang tak lama rekanku datang menjemputku , kuceritakan semua pengalaman pertamaku menaiki kereta kepada dia, banyak hal yang terjadi tanpa terduga yang aku alami dari sesuatu yang mungkin menurut sebagian orang itu biasa.
Tooooooooottttttttt……………..
 lamunanku tersontak,  , seiring kerasnya bunyi kereta berhenti dihadapanku, ah. .  mengaganggu saja lamunanku dimasa lalu . Ketusku dalam hati , sembari mengumpulkan kembali pikiranku yang telah larut dalam kenangan masa lalu ketika awal pertama menginjakan kaki di stasiun ini, itulah pengalaman pertamaku  berada di stasiun hingga akhirnya aku seperti merasakan  kecanduan untuk kembali dan kembali lagi ke stasiun meskipun tidak untuk tujuan menumpang kereta,disamping memang karna letak kost-an ku sat ini tidak begitu jauh dari lokasi stasiun kereta ini, hanya sekitar 500 meter jarak antara kost-an ku dengan stasiun ini, hal ini lah yang membuatku sering datang k stasiun ini, seperti saat sekarang ini, aku kembali duduk memandangi segumulan orang yang tengah sibuk dengan aktifitasnya masing masing di stasiun kereta api ini.
Berduyun duyun para penumpang berebut masuk kedalam tiap tiap gerbong, berharap mendapatkan tempat duduk  dan dapat melepaskan penat setelah lama menanti di stasiun akan datangnya kereta, memang kereta api merupakan alat transportasi yang di peruntukan oleh pemerintah untuk masyarakat kelas menengah kebawah sesuai dengan peraturan mentri perhubungan nomor PM 43 tahun 2012 mengenai tarif dasar perkereta apian untuk kelas ekonomi, 
Aku sebenarnya heran mengapa aku jadi senang dan betah berlama – lama di stasiun hanya untuk melihat kerumunan orang mengantri masuk kedalam gerbong kereta api dan juga menunggu kereta api yang sekedar lewat dihadapan,dengan diiringi music khas pengamen Kereta dan sesekali hilir mudik para pengemis dari beberapa versi menyapaku dengan ramah, padahal jika melihat masa kecilku dulu,aku sangat takut dengan kendaraaan besar, apapun itu, bus, kereta, pesawat, bagiku sesuatu hal yang menakutkan, semua seolah robot yang sewaktu – waktu dapat menerkam atau bahkan membunuhku dengan kondisi fisik yang jauh lebih besar dari diriku, imajinasiku bukan tanpa alas an karna sejak kecil aku memang suka sekali melihat kartun robot, dan robot – robot dalam serial kartun tersebut sangat mirip dengan kendaraan – kendaraan besar tersebut dari segi ukurannya, hal lain yang membuatku takut akan kendaraan besar konon karna turunan dari orangtuaku, yah ..  ibuku pun mengalami hal yang sama seperti diriku, selalu parno jika ada kendaraan besar melewati dirinya, tapi aku tak seberuntung ibuku beliau hanya merasakan ketakutan hingga kelas lima sekolah dasar sedangkan seingatku, sampai sekolah menengah pertama aku kadang masih takut dengan transportasi ukuran besar,tetapi itu dulu , , semenjak orangtuaku memutuskan aku untuk mendalami ilmu ke teknikan dengan konsentrasi bidang permesinan aku justru sekarang malah menjadi tertarik dengan kendaraan kendaraan dengan ukuran yang besar, aku selalu memperhatikan system yang bekerja pada kendaraan tersebut, betapa mekanika fluida dan termodinamika begitu jelas kulihat walau hanya sekilas dari rangka kendaraan tersebut tak terkecuali kereta api, aku selalu dengan seksama memperhatikan keseluruhan body mesin, system kontruksi dan beberapa hal yang telah ku pelajari di bangku kuliah.
 lamunanku kembali tersentak ketika seseorang menegurku, “permisi, boleh numpang duduk mas?” suara lembut nan merdu menyapa di dalam asyiknya lamunanku, suara yang keluar dari sosok dara jelita berparas oriental berkulit putih, jelas sekali jika perempuan ini berdarah tionghoa, dalam transisi antara mengumi dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan aku pun menjawab dengan lantang dan sedikit nada agak gugup . “oh .. silahkan mba,!” tak salah kiranya jika aku menebak jika perempuan itu masih gadis, dari perawakannya ia tak jauh beda denganku, mungkin hanya berbeda satu atau dua tahun lebih tua dariku, gadis tionghoa beraambut panjang pirang terurai terlihat anggun dengan dibalut busana berwarna jingga dipaduvpadankan dengan rok setengah lutut berwarna hitam dan acsesories tas cantik ber merk georgio Armani berwarna coklat, sangat jelas terlihat ia merupakan orang yang tau akan mode, cita rasa yang elegan nan menawan terpancar jelas dari aura wajah dan pembawaanya, dari beberapa barang yang ia kenakan aku bisa menebak kalau ia bukan orang biassa, semua serba ber merk, pndanganku tak luput dari satupun yang ia kenakan, sepatu merk buccheri acsesories hp merk ternama semua terlihat indah dipandang mata hingga aku enggan untuk meneoleh ke tempat yang lain, awlnya aku fikir ia pemeluk nasrani yang taat terlihat jelas kalung salib yang menempel pada lehernya dan keasyikannya khusus seolah membaca sesuatu, awalnya aku fikir itu Al-kitab, setelah ku perhatikan secara seksama ternyata itu  sejenis buku agenda bukan Al-kitab seperti yang aku fikirkan sebelumnya.
Rona wajah yang tak pasti tergambar diwajahnya, sesekali ia terlihat amat serius, sesekali ia menahan nafas yang cukup dalam seolah masalah besar sedang ia hadapi, bahkan dengan sesksama aku perhatikan linangan sedikit air mata sempat tergenang dipelupuk matanya yang sipit itu, dari pengamatanku aku bisa menebak sepertinya ia sedang dilanda masalah.
Pengamatnku tersentak ketika petugas mengumumkan bahwa kereta tujuan akhir Jakarta kota akan segera tiba, dan benar saja beberapa saat kemudian kereta yang dimaksud sudah tegap berdiri dihadapanku, dengan sangat terburu-buru dan tergesah – gesah sang gadis jelita keturunan tionghoa tersebut berlalu dengan tergopoh gopoh dari hadapanku, sampai – sampai Ia tak sadar ada salah satu benda terjatuh dari genggamannya, benda yang jatuh tepan didepan mataku, aku cba memanggil gadis itu walau aku tak tahu gadis itu spa namanya, “ mba.  . . .?” ternyata gadis itu tak mendengar sahutanku ia terus berlalu, bergumul di keramainya manusia yang tengah berebut masuk kedalam gerbong kereta yang sebentar lagi akan di berangkatkan.
Ku amati baik – baik benda yang terjatuh tersebut, ku cba mengambil secara perlahan, selembar kertas yang ternyata setelah kubalikkan berupa foto bergambar seorang pria berwajahkan asli khas orang sunda dengan senyum lesung pipit menghiasi indahnya foto tersebut, seolah menjadi gambaran betapa bahagia sang empunya model fhoto tersebut,
Tak ada tulisan ataupun kata – kata, ataupun entah apalah yang tertera pada balik fhoto yang sebelumnya ku fikir hanya lembaran kertas biasa, hanya secerca tanda tangan di bagian bawah sebelah kiri foto sebagai penghias sudut fhoto, ku pegang fhoto tersebut dan karena bingung harus berbuat apa, akhirnya ku putuskan untuk membawa fhoto tersebut ke kost-an ku, mengingat waktu beranjak senja dan suara adzan magrib pun telah berkumandang maka akupun bergegas pulang menuju kost-an.








bersambung. .. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar